Rupiah Anjlok, Publik Cemas di Medsos
Rupiah anjlok ke Rp17.521/USD memicu 70% postingan bernada khawatir di X, TikTok, dan Instagram — analisis sentimen lintas platform.
Upah riil turun 1,1%/tahun sejak 2018, rupiah melemah 10,87% dalam 12 bulan ke Rp18.100 — data BPS dan World Bank ungkap erosi daya beli pekerja RI.
Depresiasi rupiah ke level rekor hanyalah akselerator dari proses yang sudah berjalan senyap selama delapan tahun. Jutaan pekerja merasakan sesuatu yang tidak selalu terbaca di data makro: uang yang sama, bulan demi bulan, membeli lebih sedikit.
Di ruang medsos, percakapan tentang daya beli sudah lama berhenti menggunakan bahasa kurs atau inflasi headline. Framing yang mendominasi lebih personal dan konkret: kerja makin keras, beli makin sedikit. Yang viral bukan grafik — melainkan cerita tentang harga telur yang naik lagi, dompet yang isinya sama tapi tidak cukup untuk ayam yang bulan lalu masih terbeli, dan mal yang ramai tapi sepi transaksi.
"Mal memang ramai. Ramai orang lihat-lihat, foto-foto, beli es teh, pulang. Itu bukan konsumtif, itu wisata gratis ber-AC. Daya beli memang tidak turun, cuma tekanan darah saja yang naik."
— Opini publik yang banyak dibagikan, ZonaTerbang.id, Mei 2026Sarkasme semacam ini adalah sinyal bahwa masyarakat sudah membangun kerangka interpretasi sendiri — lepas dari framing resmi. Ketika pejabat menyebut "daya beli tidak turun," sementara pedagang pasar mencatat omzet menyusut, celah kepercayaan itu melebar dan narasi kritis menyebar jauh lebih cepat dari siaran pers mana pun.
Perasaan itu bukan ilusi. Data dari BPS, World Bank, dan Bank Indonesia membentuk gambaran yang konsisten: erosi sudah berjalan sejak 2018, dan pelemahan rupiah ke level historis adalah akselerator, bukan titik awal.
Yang paling terasa di dompet bukan kurs itu sendiri, melainkan efek turunannya: imported inflation yang menaikkan harga bahan baku, pakan ternak, dan energi — kemudian diterjemahkan ke harga beras, daging ayam, dan minyak goreng di pasar. Kelompok yang porsi belanja pangannya mendominasi pengeluaran — yakni mayoritas pekerja — adalah yang paling keras terpukul.
| Kategori | YoY % | Keterangan |
|---|---|---|
| Total retail (Feb 2026) | +6,5% | sebelum penurunan |
| Total retail (Mar 2026) | +3,4% | terendah 9 bulan |
| Pakaian & perlengkapan | −2,4% | ditunda, non-primer |
| Peralatan rumah tangga | −3,5% | pembelian ditunda |
| Informasi & komunikasi | −26,4% | penurunan tajam |
"Ekonomi tumbuh 4–5%, tapi upah riil tidak pernah menyentuh 1%. Ketimpangan pendapatan membuat hasil pertumbuhan ekonomi tidak lagi turun ke lapisan masyarakat."
— Teuku Riefky, Pengamat Ekonomi LPEM UI, November 2025Erosi ini bukan fenomena tunggal. Ia adalah produk dari tiga mekanisme yang bekerja serentak dan saling memperkuat satu sama lain.
"Persoalan yang terjadi bukan hanya perlambatan ekonomi biasa, melainkan erosi daya tahan kelompok yang selama ini menjadi penopang konsumsi nasional. Kalau kemudian terjadi PHK, efek jatuhnya jauh lebih cepat karena banyak rumah tangga kelas menengah tidak memiliki bantalan tabungan yang besar."
— Ekonom Yusuf, Kontan, Mei 2026Kekhawatiran terbesar para pengamat bukan pada angka PDB yang masih di kisaran 5% — melainkan pada ketimpangan distribusinya. Data ritel, upah riil, dan laporan World Bank membentuk gambaran yang konsisten: indikator agregat masih terlihat positif karena ditopang kelompok atas dan stimulus, tetapi di lapisan tengah dan bawah, tekanan sudah nyata dan terakumulasi selama bertahun-tahun. Tanpa penyesuaian struktural pada sistem pengupahan dan pengendalian inflasi pangan, celah ini tidak akan menutup sendiri.
"Jika pedagang sepi dan pekerja gajinya stagnan, daya beli ambruk — ekonomi pun ikut jatuh. Ini alarm yang harus direspons serius, bukan ditepis."
— Arsjad Rasjid, Ketua Umum KADIN, 2025Rupiah anjlok ke Rp17.521/USD memicu 70% postingan bernada khawatir di X, TikTok, dan Instagram — analisis sentimen lintas platform.
PDB tumbuh 5,61%, tapi rupiah dan IHSG anjlok ke titik terlemah dalam setahun — dan gap antara narasi resmi dengan keluhan dompet warganet ini juga yang membentuk suasana rumah yang diserap anak-anak SMP-SMA.
Data BPS: inflasi sektor pendidikan 1,83% (di atas inflasi umum 1,57%); biaya pendidikan SMP naik 73,52% sejak 2018, uang saku jadi komponen terbesar.