Future Defender
Ekonomi
[ANALISIS SAA]

Erosi Nilai Riil Gaji — Brief Analitik

Ringkasan

Upah riil turun 1,1%/tahun sejak 2018, rupiah melemah 10,87% dalam 12 bulan ke Rp18.100 — data BPS dan World Bank ungkap erosi daya beli pekerja RI.

Trans Media Sosial  ·  Surface Attention Unit
Brief Analitik — Juni 2026
Peringatan
Rupiah Rp 18.050–18.150 pada 5 Juni 2026 — level terendah sepanjang sejarah. Upah riil sudah terkikis −1,1% per tahun sejak 2018. Tekanan tidak berhenti di pasar finansial.
Erosi Nilai Riil Gaji · Indonesia 2025–2026

Gaji yang tidak
kemana-mana,
harga yang terus pergi

Depresiasi rupiah ke level rekor hanyalah akselerator dari proses yang sudah berjalan senyap selama delapan tahun. Jutaan pekerja merasakan sesuatu yang tidak selalu terbaca di data makro: uang yang sama, bulan demi bulan, membeli lebih sedikit.

Indikator kunci — Juni 2026
USD/IDR (5 Jun)
Rp 18.100 REKOR
Pelemahan 12 bulan
−10,87%
Upah riil (2018–2024)
−1,1%/thn
Inflasi pangan (Mei 26)
4,94%
Pertumbuhan upah nominal
+1,94%
Retail sales (Mar 26)
+3,4%
Purchasing Power Index
34,1 / ke-7 terendah
Kelas menengah hilang
−12,8 jt
orang keluar dari kelas menengah sejak 2018
BPS / Mandiri Institute
Pekerja informal (Feb 2026)
87,74 jt
naik 1,16 juta dalam setahun
BPS Sakernas
UMP Jakarta vs living cost
−Rp 160rb
defisit UMP vs kebutuhan hidup layak tiap bulan
Kemnaker / benchmark 2026
Aspiring middle class
142 jt
lebih dari separuh penduduk — rentan turun kelas
Estimasi Mandiri Institute 2025
I Apa yang dirasakan publik

Di ruang medsos, percakapan tentang daya beli sudah lama berhenti menggunakan bahasa kurs atau inflasi headline. Framing yang mendominasi lebih personal dan konkret: kerja makin keras, beli makin sedikit. Yang viral bukan grafik — melainkan cerita tentang harga telur yang naik lagi, dompet yang isinya sama tapi tidak cukup untuk ayam yang bulan lalu masih terbeli, dan mal yang ramai tapi sepi transaksi.

Rantai persepsi publik — dari pengalaman ke wacana
Harga naik
pasar, warung
Gaji stagnan
slip gaji
Tunda belanja
non-primer
Curhatan
medsos

"Mal memang ramai. Ramai orang lihat-lihat, foto-foto, beli es teh, pulang. Itu bukan konsumtif, itu wisata gratis ber-AC. Daya beli memang tidak turun, cuma tekanan darah saja yang naik."

— Opini publik yang banyak dibagikan, ZonaTerbang.id, Mei 2026

Sarkasme semacam ini adalah sinyal bahwa masyarakat sudah membangun kerangka interpretasi sendiri — lepas dari framing resmi. Ketika pejabat menyebut "daya beli tidak turun," sementara pedagang pasar mencatat omzet menyusut, celah kepercayaan itu melebar dan narasi kritis menyebar jauh lebih cepat dari siaran pers mana pun.

Kluster narasi dominan di medsos — bobot intensitas
harga naik terus intensitas tinggi gaji segitu-segitu aja menyebar luas turun kelas meningkat PHK ancam sektor padat karya sandwich generation narasi struktural mal sepi beli fenomena perilaku
II Data yang mengonfirmasi erosi

Perasaan itu bukan ilusi. Data dari BPS, World Bank, dan Bank Indonesia membentuk gambaran yang konsisten: erosi sudah berjalan sejak 2018, dan pelemahan rupiah ke level historis adalah akselerator, bukan titik awal.

Pertumbuhan upah nominal vs inflasi pangan — celah yang menekan daya beli
% 5 3 1 2022 2023 2024 Agt 2025 Mei 2026 4,94% inflasi pangan 1,94% upah nominal Upah nominal Inflasi pangan
Pergerakan USD/IDR — Jan 2025 hingga Jun 2026
Jan 25 16.000 16.985 Jan 26 17.700 Mei 26 18.100 Jun 26 REKOR 18rb 17rb 16rb

Yang paling terasa di dompet bukan kurs itu sendiri, melainkan efek turunannya: imported inflation yang menaikkan harga bahan baku, pakan ternak, dan energi — kemudian diterjemahkan ke harga beras, daging ayam, dan minyak goreng di pasar. Kelompok yang porsi belanja pangannya mendominasi pengeluaran — yakni mayoritas pekerja — adalah yang paling keras terpukul.

Pertumbuhan retail sales per kategori — Maret 2026 (Bank Indonesia)
KategoriYoY %Keterangan
Total retail (Feb 2026)+6,5%sebelum penurunan
Total retail (Mar 2026)+3,4%terendah 9 bulan
Pakaian & perlengkapan−2,4%ditunda, non-primer
Peralatan rumah tangga−3,5%pembelian ditunda
Informasi & komunikasi−26,4%penurunan tajam

"Ekonomi tumbuh 4–5%, tapi upah riil tidak pernah menyentuh 1%. Ketimpangan pendapatan membuat hasil pertumbuhan ekonomi tidak lagi turun ke lapisan masyarakat."

— Teuku Riefky, Pengamat Ekonomi LPEM UI, November 2025
III Tiga lapisan tekanan yang bekerja bersamaan

Erosi ini bukan fenomena tunggal. Ia adalah produk dari tiga mekanisme yang bekerja serentak dan saling memperkuat satu sama lain.

01
Rupiah melemah → imported inflation → harga pokok naik
Depresiasi ke Rp 18.000+ menaikkan biaya impor bahan baku, pakan ternak, dan energi — yang langsung diterjemahkan ke harga konsumen. Analisis Universitas Andalas menunjukkan rupiah diperdagangkan 14–15% di bawah nilai fundamentalnya berbasis PPP — tekanan struktural yang belum selesai.
02
Sistem pengupahan yang selalu tertinggal (lagging)
Penyesuaian UMP merespons inflasi tahun lalu, bukan yang sedang berjalan. Ada jeda temporal yang dibayar pekerja dengan daya belinya. Di 37 dari 38 provinsi, rata-rata gaji belum memenuhi kebutuhan hidup layak (2025). UMP Jakarta Rp 5,73 juta masih defisit Rp 160 ribu dari living cost benchmark.
03
Kelas menengah tanpa bantalan — risiko efek domino sosial
Dari 59,5 juta (2018) ke 46,7 juta orang (2025) — kelas menengah menyusut bukan karena naik kelas, melainkan tergelincir ke aspiring middle class yang jauh lebih rentan. Ketika PHK datang, tidak ada bantalan tabungan yang cukup dan efek jatuhnya jauh lebih cepat.
Pertumbuhan upah riil per segmen — rata-rata 2018–2024 (World Bank)
Upah riil agregat
−1,1%
Pekerja skilled-tinggi
−2,3%
Pekerja skilled-menengah
−1,1%
Pekerja low-skilled
+0,3%
Konsumsi aspiring mid
+1,3%
Sumber: World Bank, Sakernas BPS
IV Framing pengamat dan implikasi

"Persoalan yang terjadi bukan hanya perlambatan ekonomi biasa, melainkan erosi daya tahan kelompok yang selama ini menjadi penopang konsumsi nasional. Kalau kemudian terjadi PHK, efek jatuhnya jauh lebih cepat karena banyak rumah tangga kelas menengah tidak memiliki bantalan tabungan yang besar."

— Ekonom Yusuf, Kontan, Mei 2026

Kekhawatiran terbesar para pengamat bukan pada angka PDB yang masih di kisaran 5% — melainkan pada ketimpangan distribusinya. Data ritel, upah riil, dan laporan World Bank membentuk gambaran yang konsisten: indikator agregat masih terlihat positif karena ditopang kelompok atas dan stimulus, tetapi di lapisan tengah dan bawah, tekanan sudah nyata dan terakumulasi selama bertahun-tahun. Tanpa penyesuaian struktural pada sistem pengupahan dan pengendalian inflasi pangan, celah ini tidak akan menutup sendiri.

"Jika pedagang sepi dan pekerja gajinya stagnan, daya beli ambruk — ekonomi pun ikut jatuh. Ini alarm yang harus direspons serius, bukan ditepis."

— Arsjad Rasjid, Ketua Umum KADIN, 2025
Sumber data: BPS Sakernas & BRS Juni 2026  ·  World Bank Indonesia Economic Prospects 2025  ·  Bank Indonesia Retail Sales Survey Mar 2026  ·  Mandiri Institute 2025  ·  LPEM UI  ·  KADIN  ·  Kemnaker  ·  Trading Economics  ·  Universitas Andalas  ·  ZonaTerbang.id  ·  Kontan  ·  CNBC Indonesia
Trans Media Sosial
Surface Attention Unit
Juni 2026
[Iklan]Commercial Space

Dispatch Terkait